Indonesia Miliki Potensi Besar Jadi Pemimpin Industri Ikan Hias Dunia

Cibinong, Bogor – Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University sekaligus Anggota DPR RI Komisi IV, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS,, menegaskan bahwa Indonesia memiliki “harta karun” berupa keanekaragaman hayati ikan hias terbesar di dunia. Potensi ini membuka peluang besar untuk menciptakan lapangan kerja baru, mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Rokhmin dalam acara talkshow bertajuk “Potensi dan Peluang Ikan Hias” di Gedung Exhibition Hall Raiser Ikan Hias Cibinong, pada Minggu, 14 Desember 2025. Acara tersebut digelar sebagai bagian dari rangkaian Kontes Ikan Hias Channa “Come Back To Channatourahmi #3”, dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan.

Menurut Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, meskipun Indonesia saat ini menempati posisi sebagai eksportir ikan hias terbesar kedua dunia dengan pangsa pasar sekitar 12–13 persen, pemanfaatan potensi tersebut masih sangat rendah dibandingkan kekayaan biodiversitas yang dimiliki. Dengan tren ekspor yang terus positif dan pasar global yang diproyeksikan terus tumbuh, Indonesia berpeluang kuat untuk menguatkan posisinya sebagai pemain utama industri ikan hias dunia, bahkan berpotensi menjadi nomor satu.

Namun, untuk mewujudkan hal tersebut, industri ikan hias nasional masih menghadapi sejumlah tantangan utama yang perlu segera diatasi:

– Kesejahteraan ikan (fish welfare) dan perlindungan lingkungan yang masih lemah, termasuk branding yang belum kuat
– Skala usaha mayoritas masih kecil dengan kelembagaan yang belum solid
– Akses terhadap pembiayaan dan teknologi modern yang terbatas
– Standar mutu serta biosekuriti yang belum seragam di seluruh rantai pasok
– Logistik pengiriman ikan hidup yang mahal dan berisiko tinggi

Dalam paparannya, Prof. Rokhmin menyampaikan strategi komprehensif dari hulu hingga hilir untuk mengatasi tantangan tersebut dan memajukan industri:

1. Penguatan riset dan sumber daya manusia melalui pengembangan benih unggul, teknologi budidaya modern, serta program pelatihan dan sertifikasi bagi pelaku usaha.
2. Pembangunan klaster atau desa ekspor ikan hias di berbagai wilayah potensial.
3. Pembenahan tata niaga dan koridor logistik khusus ikan hidup, termasuk layanan perizinan serta karantina satu pintu berbasis digital.
4. Penguatan pemasaran dan branding global dengan label “Indonesian Sustainable Ornamental Fish”.
5. Penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) dan traceability (ketertelusuran) penuh.
6. Penciptaan iklim investasi yang ramah bagi pelaku usaha skala kecil hingga menengah.
7. Pembentukan manajemen terpadu nasional melalui entitas seperti “Indonesia Ornamental Fish Incorporated”.

Acara diskusi ini juga menghadirkan perwakilan dari berbagai instansi dan organisasi terkait, termasuk Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Badan Karantina, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), asosiasi eksportir ikan hias, pelaku usaha logistik, serta komunitas penghobi. Kolaborasi lintas sektor dan pemangku kepentingan menjadi kunci utama agar industri ikan hias Indonesia dapat naik kelas: lebih berdaya saing di pasar global, ramah lingkungan, serta benar-benar memberikan manfaat kesejahteraan bagi rakyat.

Dengan kekayaan biodiversitas yang dimiliki dan komitmen bersama untuk mengatasi tantangan, Indonesia diyakini mampu menjadikan sektor ikan hias sebagai salah satu pilar penting ekonomi biru nasional yang berkelanjutan.

#‎RokhminDahuri

‎#IkanHiasIndonesia

‎#EkonomiBiru

#‎Perikanan

‎#UMKM

‎#Cibinong

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *