Jakarta – 10 Desember 2025, Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS, menilai pemerintah masih “gagap” dalam menangani bencana ekologis berupa banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir 2025. Bencana ini telah menimbulkan dampak luar biasa, dengan korban jiwa mencapai ribuan jiwa serta kerugian ekonomi nasional yang diproyeksikan mencapai Rp68,67 triliun menurut kajian Center of Economic and Law Studies (CELIOS).
Untuk mengatasi persoalan tersebut secara lebih efektif, Komisi IV DPR RI mendorong tiga langkah strategis utama atau “tiga jurus” krusial dalam merespons dan mencegah bencana serupa di masa depan.
Pertama, memperkuat sistem peringatan dini (early warning system/EWS). Prof. Rokhmin Dahuri menyoroti bahwa kondisi EWS di Indonesia masih kurang optimal, sehingga dampak bencana menjadi jauh lebih besar dibandingkan negara tetangga yang mengalami siklon tropis serupa. Sebagai contoh, korban jiwa di Indonesia mencapai hampir 1.000 jiwa, sementara di Thailand dan Vietnam masing-masing hanya 270 dan 90 jiwa. Kerugian ekonomi yang mencapai Rp67 triliun (mendekati estimasi CELIOS Rp68,67 triliun) semakin menegaskan urgensi penguatan EWS untuk meminimalkan korban dan kerusakan.
Kedua, mengubah pola respons pemerintah yang terlalu reaktif. Saat ini, penanganan bencana ekologis di Sumatera cenderung seperti “pemadam kebakaran” yang kebingungan, tanpa koordinasi yang jelas dan terstruktur. Kondisi ini terjadi karena Indonesia belum memiliki kesiapsiagaan yang memadai dalam menghadapi bencana ekologis skala besar, sehingga respons menjadi lambat dan kurang efektif.
Ketiga, mendorong revisi Undang-Undang Kehutanan. Komisi IV DPR RI sedang mengawal proses revisi UU Kehutanan untuk mempertegas rencana tata ruang wilayah, khususnya komitmen menjaga tutupan hutan minimal 30% yang tidak boleh diubah. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara kaidah sosial-ekologis melalui penanaman ulang hutan serta skema tebang pilih yang berkelanjutan, sehingga mencegah degradasi hutan yang menjadi salah satu pemicu utama banjir dan longsor.

“Tiga jurus ini menjadi langkah krusial untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di masa depan,” tegas Prof. Rokhmin Dahuri.
Bencana ekologis di Sumatera ini menjadi pengingat keras akan pentingnya pengelolaan lingkungan yang lebih baik, di mana perusakan hutan dan alih fungsi lahan memperparah dampak cuaca ekstrem. Komisi IV DPR RI berkomitmen mengawal implementasi ketiga jurus tersebut guna melindungi masyarakat dari ancaman bencana serupa dan memastikan pembangunan nasional berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan.
